Monday, 8 October 2012

Pesta, Batal

"Ayo! Cepat!" sahut Andra.

Dia melangkah di paling depan dari barisan. Gula di tangannya sama sekali bukan masalah bagi ketua kelompok kami itu. Dia kuat, tanggung jawab, dan selalu dapat diandalkan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Langkahnya begitu tegap, matanya terpaku pada jalan menuju kampung kami, dimana kawan-kawan yang lain sedang menunggu sambil mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta malam ini.

Aku hanya bisa menarik kaki-kakiku yang sudah lemas. Sejak tadi pagi, setelah diumumkan bahwa akan diadakan pesta, aku sudah sibuk bukan main. Disuruh mempersiapkan minuman yang cukup untuk seisi kampung. Dapatkah kau bayangkan betapa susahnya melakukan hal itu? Aku berlari-lari ke sana-sini, melihat apakah ada minuman yang dapat kubawa. Ya, hanya aku sendiri! Aku tidak mengerti mengapa tidak ada yang datang membantuku.

Yang lebih tidak dapat kumengerti adalah pesta ini diadakan karena Sang Ratu ingin mengadakan sebuah pesta. Demikian saja! Tanpa tujuan yang jelas! Tentu saja dia dapat dengan seenaknya mengadakan pesta. Yang bekerja bukan dia, yang sibuk bukan dia, yang lelah bukan dia. Dia hanya memerintah, tanpa memberikan kontribusi apapun.

Ah, alangkah baiknya kalau pesta ini dibatalkan saja. Aku bisa istirahat secukupnya. Tetapi, kenyataannya aku masih harus menarik kaki yang kasihan ini kembali ke kampung. Sudahlah, pintu masuk sudah di depan mata. Andra sudah bahkan sudah hilang dari pandanganku.

"Hati-hati!" Terdengar sebuah suara dari belakangku. Aku menoleh dan melihat sebuah ombak besar sedang menuju ke arah kami. Aku segera berlari menyelamatkan diri. Jangan. Jangan! Aku tidak mau mati!

*

"Rendi, apa yang sedang kau lakukan?"

"Nggak, Ma. Ini banyak betul semut di dekat sini. Perasaan Rendi nggak enak. Geli. Jadi, Rendi siram saja dengan air panas ini," jawab bocah itu dengan santai sambil menunjuk termos kecil di tangannya.

Perayaan Ulang Tahun

Dengan langkah terburu-buru, aku berjalan menuju mobil sambil berusaha menjaga keseimbangan agar kue di tangan tidak apa-apa. Entah kenapa, debaran jantungku semakin cepat seiring dengan waktu yang semakin mendekat. Langkahku terasa semakin berat. Bahkan kunci mobilpun tidak berhasil kumasukkan dengan tepat karena tanganku yang mulai gemetar.

"Jangan telat!" Tiba-tiba saja kata-kata kakakku dalam percapakan ponsel tadi terdengar lagi dalam benakku.

Aku menghirup napas sedalam mungkin dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menenangkan diri. Cara paling ampuh bagiku di saat aku gugup atau terlalu tegang. Cara yang diajarkan Bunda sejak aku masih kecil dulu.

"Ulang tahun Bunda kali ini, pokoknya kita semua harus hadir!" Kata-kata kakakku kembali terngiang.

Benar. Bunda dengan susah payah membesarkan kami bertujuh. Setelah kami terjun dalam dunia kerja, ulang tahun Bunda jarang dirayakan bersama. Hadir empat dari kami saja sudah termasuk ramai. Namun, berapapun orang yang merayakan ulang tahunnya, Bunda selalu tersenyum senang. Mungkin sebenarnya dalam hati, dia juga kecewa, tetapi, Bunda tidak pernah menunjukkannya pada kami.

Hingga tahun lalu.

Bunda duduk di ruang tamu, kami bertiga duduk di sisinya, sambil memberikan isyarat siapa yang meminta izin untuk pulang dulu. Dengan begitu, yang lainnya bisa ikut pulang.

Bunda, masih dengan senyumannya, berkata, "Sudahlah. Kalau sibuk, pulang saja dulu."

Tanpa ragu, kami berdiri dan pamit. Tetapi, saat Kak Desi masuk ke dalam untuk mengambil kunci mobilnya, tanpa sengaja, dia mendengar Bunda berkata pada Mbak Ita, suster yang menjaga Bunda, bahwa dia sangat berharap agar semua anaknya dapat merayakan ulang tahunnya bersama. Untuk sekali saja.

Jadi, untuk tahun ini, kami bertujuh sengaja mengosongkan jadwal untuk hari ini. Bagaimanapun juga, pokoknya semua dari kami harus hadir dalam perayaan ulang tahun ini.

Degupan jantungku semakin kacau saat aku turun dari mobil. Kak Desi sudah menunggu di tempat parkir untuk membantuku membawakan kue. Perlahan kami berjalan menuju tempat yang lainnya berada. Dan benar sesuai apa yang Bunda inginkan. Kami bertujuh berkumpul lagi untuk merayakan ulang tahun Bunda. Tetapi, sayang sekali, Bunda sendiri tidak hadir.

Kak Desi meletakkan kue ulang tahun di depan batu nisan bertuliskan nama Bunda. Tangannya refleks menyentuh foto Bunda. Setetes air matanya terjatuh, tepat mengenai kue yang dibawanya tadi.

"Selamat ulang tahun, Bunda," katanya.

Sunday, 7 October 2012

Graduation "Thanks to" Part 2: IF Zero Nine Classmates

I couldn't have enjoyed my undergraduate days if it was not for the existence of my IF Zero Nine classmates.

My thanks to..

To My Classmates, IF '09 STTI alias IF Zero Nine

Thank you to each and everyone of IF Zero Nine members. Dari ketua Ricky hingga si anak mas Ardi, each and everyone of you who have added smiles to my days. Thank you for accompanying me, for bringing me laughter and happiness, for creating troubles and problems for me to solve, and most importantly for filling up my days with colourful memories for me to reminisce from time to time.

Di sini, ada sesuatu yang ingin saya akui. Waktu awal masuk, karena saya daftarnya sendiri alias tanpa teman, saya melangkah memasuki ruangan kelas dengan pemikiran 'saya ke sini untuk belajar dan bukan untuk berteman'. Jadi, waktu itu saya sudah menghipnotis diri sendiri, bahwa untuk seterusnya, I'm going solo.

Tetapi, selesai pertemuan pertama, saya sudah dapat memprediksi kehidupan saya untuk semester-semester ke depan. Saat itu, saya menyadari bahwa kelas ini ceweknya nggak banyak, anggota kelas ini ribut dan banyak komentar, banyak yang suka merokok, meskipun rata-rata ramah. Untuk selanjutnya, semuanya pasti akan kacau.

Saya masih dapat mengingat dengan jelas, pada awal masuk saja sudah 'diganggu' Ricky, yang ujung-ujungnya menjadi ketua kelas. Jujur, sampai sekarang juga saya bingung mengapa dia yang dipilih.
Lalu, selain saya, hanya dua mahasiswi dalam kelas, yang duduk di belakang saya, Merlin dan Elli.
Dan dua orang super tinggi yang dengan penuh rasa nggak tahu diri duduk di barisan paling depan, menghalang pandangan saya, Kelvin dan Agus.
Kemudian, orang pertama yang mengajak kenalan dengan saya, lokasi kenalannya tepat di depan tangga menuju lantai satu, anak kesayangan keluarga IF Zero Nine, Ardiyansyah. Maaf, Di, harus saya akui juga, waktu itu, saya kurang ingat nama Ardi.. Peace, yah...

Dan seiring dengan berjalannya waktu, segalanya berubah. Aneh sekali. Saya juga nggak tahu awal mulanya dari mana dan sejak kapan. Pokoknya, suatu hari, tiba-tiba, saya terbiasa dengan keributan ini, bahkan otak saya juga menjadi encer dalam hal melontarkan komentar-komentar yang bisa membuat orang lain pusing, meskipun saya nggak melakukannya di dalam kelas. Saya mulai terbiasa dengan cara kalian meramaikan suasana, terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan nggak nyambung yang kalian lontarkan pada dosen, terbiasa dengan kehadiran kalian yang entah sejak kapan saya beri label 'teman'. Tiba-tiba saja, I'm not going solo anymore.

Banyak sekali kenangan yang kalian berikan kepada saya. Karena kalianlah, saya tidak menyesal menyelesaikan studi di STTI. Saya belajar banyak dari dosen, tetapi, saya belajar lebih banyak dari kalian. Bagaimana membuat dosen pusing, bagaimana bersifat ramah pada orang yang baru dikenal, bagaimana memberikan perasaan nyaman bagi orang yang berdiri di depan kelas, dan banyak lagi. Saya sendiri terasa perubahan dalam sifat dan pemikiran saya. Asal kalian tahu saja, kalian turut berkontribusi membentuk diri saya yang sekarang.

Terima kasih, sudah mewarnai tiga tahun dari kehidupan saya ini. Tiga tahun yang tadinya sudah saya cap akan merupakan gambar hitam putih, menjadi lukisan berwarna-warni yang begitu indah karena kehadiran kalian, terutama Diki dan Agus, yang bersama saya dikenal tiga sekawan dalam kelas. Yang lain jangan cemburu, ya.

Diki, yang dikenal sebagai geng saya dalam kelas. Terima kasih atas dukungannya selama ini, terima kasih selalu percaya pada kemampuan saya. Dik, jangan pusing hal-hal kecil lagi ya, kan banyak yang udah Diki lewati. Kalau masih mau curhat-curhat, lewat FB atau Whatsapp aja, aku pasti baca kok. Stay happy, my friend.

Agus, geng saya no.2 dalam kelas. Si jangkung yang sering menyerah duluan sebelum mulai dalam hal belajar, ujian, dan membuat tugas. Si tangan beruntung yang selalu mendapat urutan yang baik kalau disuruh undi untuk urutan presentasi. Please bro, believe in yourself.

Kelvin, satu-satunya orang yang bisa saya ajak ngomong tentang K-Pop dalam kelas. Orang tertinggi dalam kelas yang selalu menjawab dengan 'ga mau' tiap kali disuruh maju, dan alasannya selalu 'malas' tiap kali ditanya mengapa. Kelvin, be more diligent.

Ardi, adik kesayangan dalam kelas meskipun bukan bungsu. Anak mas yang selalu membuat suasana ringan. Kalau tiba-tiba memanggil saya, pasti tentang f(x), terutama Amber, meskipun dirinya bukan fans mereka. Si pemilik otak encer yang banyak komentar menggemaskan. "Kenalan dong, nama saya Ardi," katanya selesai hari pertama kuliah, setelah mencegat saya di depan tangga. Stay cheerful, bebek.

Amat, bang Jajang, Merlin, Elli, bang Herman, bang Ricky, bang Ade, Sudi, Guruh, dan anggota IF Zero Nine lainnya, yang juga ikut memenuhi hari-hari saya dengan kejadian-kejadian yang tidak terlupakan. Bagi yang namanya nggak disebut, jangan tersinggung, ya. Yang penting kalian mengaku kalian adalah bagian dari IF Zero Nine, maka masuklah kalian ke dalam daftar saya ini.

Postingan ini saya dedikasikan khusus untuk IF Zero Nine, setiap orang yang termasuk di dalamnya. Thank you all so much for colouring my life. I won't forget you.

Tuesday, 2 October 2012

The ELF Me - 1 Year Anniversary

2nd October 2011, I accidentally watched their A-Cha MV while my sister was watching it on the desktop in our living room. Her friend tagged her on facebook, nothing more, nothing less. She knew some of them and started introducing those some to me.

Out of curiosity, I searched their videos on youtube, and I came across this video. At that time, I thought, "Wow, this guy really can sing."

Okay, I admit. During that whole A-Cha MV, he's the one who caught my eye. And after watching the video of him singing live, all of a sudden I became interested in him. So, with the help of dear Google, I got quite a handful of his information.

Then, I went on to read from Wikipedia about this group called Super Junior. Because of him though. When I realized that there were two sets of names: the stage names and the birth names, I decided to just memorize Yesung's, plus his birthday, since it's quite impossible to memorize all 13+2 of them. Well, that's what I thought at that time.

But within an hour or so, all their names and birthdates were glued in my head. From the eldest to the youngest, no problem.

After that, I watched another video of them, Super Junior Show episode 18, if I remember correctly, about their Thailand trip. The video was taken way back in 2006. Their cheerfulness totally mesmerized me.

And all of a sudden, voila! Call me an ELF, Ever Lasting Friend.

Some days later, a friend said to me that she became their fan during the early part of 2011, and she also said that during these later months of 2011, her passion seemed to have died down. She's still their fan, but not as much as before. So, in conclusion, she told me that as the days passed, I would not like them as much as when we were chatting.

And today, 2nd October 2012, I believe she's right.

Now, after a whole year have passed. After learning almost (Note: just to be modest) everything about this group. After experiencing quite a number of things with them and the other ELF, just imagine, in an amount of time as short as a year, a lot of things have happened to them, and us, good ones and bad ones. After all these... I don't think I like them as much as a year ago.

I like them more than a year ago. Can I use the word love? It's such a strong word. LOL.

After knowing them, after realizing how much hardships they've been through, after understanding that this group that brought me so much laughter has endured so many hurtful incidents. They survived. With their tears and sweats, they've achieved so much. And yes, they deserve all of them.

I learned a lot from them. A whole lot.

Not giving up, giving all you've got, and working hard doesn't always give you what you've dreamed of. But if you are patient enough, if you are willing to keep going, you'll see that miracles do happen and dreams do come true.

I am proud to say that I'm a part of ELF, a part of the sapphire blue ocean. And I look forward to my 2 year anniversary post. 1 year down, forever to go.

It's not end, but and...

슈퍼주니어오빠들...
늘고맙고 사랑한다,
영원하자 슈주엘프...

Saturday, 29 September 2012

Langkah Ke-101


Aku duduk termenung di depan laptop. Telepon darimu membuat hari Sabtu yang cerah ini kelam seketika. Aneh. Sejak kapan mendapat panggilan darimu menjadi sesuatu yang membuatku sedih? Sepanjang ingatanku, mendengar suaramu selalu merupakan hal yang menyenangkan. Jadi, mengapa perasaanku seperti ini?

Sakit. Sangat sakit, saat aku sepenuhnya sadar bahwa senyumanmu padaku sama saja dengan senyumanmu yang kaulontarkan pada orang lain. Sangat menyesakkan, saat aku tahu bahwa usahaku selama ini sia-sia. Aku tetap bukan orang yang istimewa.

Tidak. Untuk kali ini, aku tidak akan memenuhi ajakanmu lagi. Aku tidak akan memusingkan diriku dengan apa yang akan kaubicarakan atau apa yang pakaian apa yang harus kupakai.

Tanpa aba-aba, tanganku menghidupkan laptop dan membuka folder yang terkunci, yang berisi rahasiaku. Setiap huruf di dalamnya adalah cermin dari apa yang kurasakan karena dirimu, dan tidak ada yang boleh membacanya. Mengapa? Karena aku tidak ingin ada yang mengetahui isinya. Rahasiaku yang dengan susah payah kusembunyikan. Darimu.

Judul tulisan yang terakhir “Langkah ke-100”, memperingatiku bahwa aku harus berhenti perjalanan ini. Perjalanan menutupi jarak di antara kita, dari langkah pertama hingga langkah ke-100. Aku rela menapak setiap langkah itu sendirian, tanpa harus kau bergerak sedikitpun. Mungkin mereka yang tahu akan menertawakanku. Tetapi, aku tidak akan berkomentar apa-apa, sebab aku rela.

Tetapi, aku tidak bodoh. Jika hingga langkah ke-100 juga ternyata jarak kita belum tertutup, jika hingga langkah ke-100 juga aku masih belum dapat mencapaimu, aku akan berhenti. Dan 100 langkah yang telah kuambil itu akan merupakan kenangan indah, rahasia pahit yang akan kupendam selamanya.

Sekarang, saat itu sudah sampai. Ternyata 100 langkah benar-benar tidak cukup. Selesai sudah perjuangan yang sia-sia ini.

Jemariku dengan lincah menari-nari di atas keyboard. Melampiaskan perasaanku dengan cara ini merupakan kebiasaan yang telah terbentuk sejak hari pertama aku menyadari bahwa kehadiranmu bagiku bukan hanya teman semata. Dalam hitungan detik, selesailah tulisan hari ini.

Entri 29 September 2012:
        Judul: fin
        Kau mengajakku keluar. Lagi. Untuk kesekian kalinya yang sudah tidak dapat kuhitung. Kali ini, aku sudah memantapkan hatiku, mengeraskan perasaanku. Aku tidak akan terjerumus dalam senyumanmu padaku, yang tidak mempunyai makna istimewa itu.

Aku menghela napas lega. Selesai sudah. Mulai sekarang, aku akan menjadi seseorang yang baru, bukan lagi gadis bodoh yang selalu mengharapkan dirimu. Dan kuharap dengan begitu, kau akan sadar, bahwa kehadiranku ternyata demikian penting.

Setelah memantapkan pikiranku, aku mulai menjelajah beberapa dari daftar tulisan dalam folder. Entah apa yang mendorongku membuat hal yang tidak berarti ini. Dan ternyata sudah demikian lama aku menulis di sini, lebih dari setahun. Berarti, selama itu jugalah aku memendam perasaanku ini. Dan selama itu jugalah, kau yang hanya menganggapku teman, tidak menyadarinya.

Langkah ke-1:
Dan hari ini, kau lagi-lagi menjemputku saat akan ke kampus. Katamu, karena satu arah, jadi sekalian saja. Saat kau katakan mulai hari ini, kau bersedia menjadi supir pribadiku untuk seterusnya, kau tahu bagaimana perasaanku? Ya, langkah awal yang baik.

Langkah ke-13:
Kau menyetujui ajakanku untuk menghadiri reuni SMA. Kau bahkan sibuk bertanya-tanya apa yang harus kau kenakan. Dalam pandanganku, kau seperti seorang gadis yang gugup sebelum first date. Satu langkah lebih dekat lagi.

Langkah ke-24:
Hari ke-8 kita tidak berbicara. Padahal kita bertengkar hanya gara-gara hal kecil. Tetapi, tanpa sengaja, aku mendengarmu bercerita pada teman, bahwa kau merasa tidak terbiasa tanpa diriku yang meracau di sisimu. Meski kita sedang perang dingin, tetapi ini suatu proses yang bagus, kan?

Langkah ke-51:
Kau dengan bangga memamerkan hadiah dari dia, pacarmu itu yang baru pulang dari Australia untuk melewati liburan kuliahnya. Dia, yang juga teman baikku, orang yang memperkenalkan kita. Tetapi, kau juga mengucapkan terima kasih padaku yang berperan banyak dalam hidupmu, terutama di saat kau memerlukan dukungan. Hei, kau yang masih tidak tahu apa-apa, kalau saya yang duluan mengenalmu, apakah statusku masih sekadar teman?

Langkah ke-72:
Kau menanyakan pendapatku tentang gadis yang kau kenalkan padaku kemarin. Setelah beberapa bulan memutuskan hubungan LDR-mu, kau menemukan ‘dia’ yang baru. Apa yang harus kukatakan? Alhasil, aku hanya membisu. “Kau tidak menyukainya?” tanyamu. Kau tahu apa yang membuatku tercengang? Saat aku mengangguk, kata-kata yang kau ucapkan tanpa memikir lebih jauh. “Kalau begitu, dia out.” Bagimu, pendapatku penting, kan?

Langkah ke-89:
Setelah bermalam-malam kekurangan tidur karena mengejar laporan, aku jatuh sakit juga. Dan kau, membatalkan janji temu dengan adik kelas yang manis itu, hanya karena ingin menemaniku. Kau begitu mengkhawatirkanku.

Langkah ke-100:
Aku membawa kue buatanku sendiri, bertandang ke rumahmu, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun, dan dengan harapan dapat merayakan hari istimewa ini berdua. Kau dengan senang menyambutku, mengacak-acak rambutku, dan mulai mengatakan betapa beruntungnya dirimu mempunyai seorang teman yang pandai membuat kue. Ternyata, aku masih teman. Ternyata, langkahku yang ke-100, belum cukup untuk menutupi jarak di antara kita. Sebenarnya, masih berapa langkah lagi yang dibutuhkan?

Aku menghembuskan napas pelan. Pasrah. Kepalaku pusing. Kau mendekat lalu menjauh, tetapi kau tidak pernah menolak kebaikanku, kau  bahkan membalasnya dengan hal yang membuat hatiku berdebar lebih kencang. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku dapat melepas begitu saja?

Bagaimana kalau ternyata jika aku terus menunggu dan terus melangkah, kau akan menyadari kelalaianmu selama ini? Dari langkah pertama hingga langkah ke-100, itulah kemajuan dari hubungan kita. Kemajuan yang hanya ada karena diriku yang tidak putus asa.

What if, it seems like you’re going to love me
Because it seems like you’re going to come to me if I just wait a little
With these anticipations, I can’t leave you

Ponselku berdering di saat yang tepat. Aku memerlukan sesuatu untuk mengalihkan perhatianku. Tetapi, begitu aku melihat namamu yang tertera di layar, napasku tercekat untuk sesaat. Apakah ini sebuah pertanda?

“Sudah siap? Aku berangkat sekarang.”

Pesan singkat itu membuatku tertegun. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya, SMS seperti ini sudah pernah kaukirim untuk banyak gadis yang lainnya bukan? Tidak hanya aku, meskipun aku dikenal sebagai gadis yang paling dekat denganmu. Namun, juga dikenal sebagai gadis yang berlabel teman bagimu.

Even though I wanted to believe that that smile was just for me
It probably isn’t, right?
But still, just maybe

Hei, kalau sebenarnya jarak di antara kita ada 1000 langkah. Apakah mungkin bagiku untuk menapak kesemua langkah itu? Apakah aku dapat berharap kau akan mulai melangkah ke arahku juga?

Dua buah suara dalam diriku berdebat. Otakku melontarkan berbagai logika, hatiku menolak dengan alasan yang mungkin saja hanya berupa harapan palsu. Tetapi, aku ingin berpegangan pada harapan itu. Sebab itulah yang memotivasiku selama ini. Dan aku yakin, harapan itu juga akan terus mendorongku untuk seterusnya, berapapun panjangnya jarak yang harus kulalui.

These thoughts are useless
For I’m already living in the deeply set times of you

Aku membuka kembali draf terbaru itu dan mulai mengetik. Salah. Mengedit.
Entri 29 September 2012:
        Judul: Langkah ke-101
        Kau mengajakku keluar. Lagi. Untuk kesekian kalinya yang sudah tidak dapat kuhitung. Dan kali ini sudah kuputuskan, berapapun langkah yang harus kutapak, aku akan terus maju. Sebab, siapa tahu, kalau aku terus menunggu, kau akan datang padaku. Ya, benar. Aku memang bodoh.

Even though pain is heavy
Still, I feel like you’ll love me

=============
Songfic by : Lidya Yang (@Lidya_yang)
Inspired by: What If By Super Junior
Post #10 of #30HariLagukuBercerita

Wednesday, 26 September 2012

Gidarilge -기다릴게-


Aku melangkah keluar pintu kaca yang terbuka secara otomatis, dengan bagasi dan ransel yang telah menemaniku selama perjalanan yang melelahkan ini. Perjalanan selama dua tahun yang membuat perasaanku sekarang bercampur aduk. Senang, bangga, tetapi juga khawatir dan takut.

Hei, bukan setiap hari seorang lulusan S2 jurusan arsitektur yang mendapat beasiswa penuh untuk kuliah di Korea Selatan pulang ke negara asalnya. Mendapat beasiswa seperti itu saja sudah suatu anugerah besar yang tidak terjadi pada sembarang  orang.

Tetapi, dua tahun. Itu yang menjadi masalah. Aku tidak tahu apa yang telah berubah, dan apa yang tidak. Selama ini, aku hanya bisa berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman melalui dunia maya. Demikian juga keadaannya dengan dia. Dia yang selama ini terus menempati di posisi istimewa dalam hatiku. Tetapi, setelah dua tahun, apakah posisiku baginya masih sama seperti dulu?

Langkahku memelan, dan kemudian terhenti, saat aku menyadari tidak ada yang menjemputku di bandara. Bahkan keluargaku pun tidak datang. Aku mendecak lidah kesal. Tetapi, ada atau tidak yang menjemputku, aku juga harus pulang ke rumah. Bisa kemana lagi?

Aku mendesah sebelum bergerak lagi. Pada saat yang bersamaan, sepasang tangan tiba-tiba menutup mataku dari belakang dan menahan ayunan langkahku. Tangan yang lembut. Sentuhannya seakan takut kacamataku akan retak begitu mengenai tangannya. Jangan-jangan…

Aku segera menurunkan tangan itu dan membalikkan badan.

Dia berdiri di sana, dengan senyumannya yang khas, yang selama ini hanya dapat kubayangkan, yang selama ini begitu kurindukan. Dia… datang.

Terdengar sorakan dari belakang. Sorakan kacau yang menarik perhatian orang-orang sekitar. Sama seperti mereka yang terkejut, aku menoleh pada asal suara, dan mendapati keluarga dan teman-teman dekatku berdiri dalam satu deretan, sambil mengangkat spanduk dan papan-papan kecil bertuliskan namaku dan tulisan “welcome home”. Apaan ini?

“Kalian terlalu berlebihan,” kataku sambil berjalan ke arah mereka. Tanganku menggenggam erat tangan yang baru saja memberiku kejutan manis tadi. Genggaman yang ditunda selama dua tahun. Genggaman yang kunantikan selama dua tahun.

“Berlebihan apanya? Ini kami lagi jemput artis dari Korea!” sahut adikku dengan senyuman nakal.

Aku ikut tersenyum. Untuk kali ini, aku tidak akan memberikan komentar apa-apa. Suasana seperti ini sudah terlalu kurindukan. Yang dapat kulakukan hanya menatap mereka satu per satu dan tersenyum, lalu kutatap lagi, dan tersenyum lagi. Inikah yang dinamakan bahagia?

“Sudah kutepati janjiku,” katanya tiba-tiba saat rombongan yang keributannya hampir menarik perhatian sekuriti ini meninggalkan bandara. Tangannya masih dalam genggamanku. Langkah kami santai. Dalam hati, aku memohon agar waktu berjalan lebih lambat lagi. Adegan seperti ini hanya akan muncul dalam mimpi dan lamunanku selama dua tahun yang baru kulewati.

Aku mengerutkan dahi tidak mengerti. Melihat reaksiku, dia berjinjit untuk mencapai telingaku, dan aku secara otomatis menunduk sedikit untuk memudahkannya. Ah, chemistry di antara kami yang begitu kurindukan tidak hilang sedikitpun. Senangnya.

“Gidarilge,”[1] bisiknya.

Aku hanya tertegun menatap gadis yang tersenyum manis itu, yang kemudian dengan lincah berlari mengejar rombongan yang sedang berjalan menuju tempat parkir. Sesekali dia membalikkan badan untuk melambai padaku, mengisyaratkan agar aku mempercepat langkahku.

“Aku pulang,” gumamku sambil membetulkan letak kacamata. “Maaf telah membuatmu menunggu,” lanjutku lagi dengan pandangan yang masih terpaku padanya.

Saat aku akan melangkah, pundakku tiba-tiba diguncang. Rasa kaget ini hampir saja membuatku meloncat di tempat.

“Sudah sampai,” kata seorang laki-laki di sampingku.

Perlahan, aku membuka mata, lalu mengangguk pelan sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Ternyata hanya mimpi. Pesawat yang kutumpangi baru saja mendarat di Korea Selatan, tempat yang akan menjadi tempat tinggalku untuk dua tahun ke depan. Mimpi yang indah. Aku hanya bisa berharap, semoga mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Tetapi, salah satu sudut pikiranku sangat meragukan hal ini. Menunggu selama dua tahun. Siapa yang rela?

Aku membetulkan letak headphone, yang sejak tadi tidak kuperhatikan lagu apa yang diputar darinya, kemudian aku mengambil barang-barangku, dan melangkah mengikuti barisan keluar dari pesawat. Benakku masih memikirkan mimpi tadi.

Udara dingin yang sama sekali tidak ramah menyambut kedatanganku. Dengan refleks, aku merapatkan jaket yang kukenakan. Jaket yang dia berikan saat mengantarku ke bandara tadi. Hadiah untuk dua tahun ini, katanya. Aku menyengir saat mengingat kembali adegan tadi. Jadi maksudnya, selama dua tahun ini tidak akan ada hadiah lain lagi?

Aku memasukkan tangan kanan ke dalam saku jaket. Ternyata udara musim dingin itu seperti ini. Begitu menusuk tulang. Dan yang lebih menyakitkan lagi, aku sendirian di negara asing. Tiba-tiba rasa khawatirku tentang apa yang akan terjadi setelah dua tahun kembali menghantui pikiranku. Bagaimana kalau mimpi benar-benar hanya mimpi belaka? Di saat aku pulang setelah menyelesaikan studiku, apakah kami masih bisa seperti dulu? Apakah dia akan menunggu?

Aku hanya bisa menyesali keraguanku untuk bertanya padanya. Hingga saat aku menghilang dari pandangannya tadi, masih belum kukatakan bahwa aku berharap dia menungguku. Tetapi, permintaan seperti ini, sangat egois, bukan?

Pikiranku kembali tenggelam dalam perdebatan yang terjadi setiap hari selama beberapa hari ini. Perdebatan yang tiada akhir. Hingga tanganku merasakan ada sesuatu di dalam saku yang seharusnya kosong itu. Kwitansi pembelian jaket ini, kah? Sebuah ide aneh muncul dalam benakku. Tetapi, sesuai sekali dengan sifatnya yang suka memberi kejutan. Otaknya merupakan sarang dari ribuan ide yang tidak dapat dipikirkan orang lain.

Dengan tangan yang mulai menggigil, aku keluarkan selembar kertas putih yang dilipat empat. Ini pasti tulisannya, pikirku sambil membuka lipatannya, saat aku menyadari coretan kaku itu adalah tulisan dalam bahasa Korea. Dia tidak pernah mau belajar bahasa Korea. Nggak minat, katanya.

Hatiku berdetak lebih kuat sejenak ketika deretan tulisan itu ditangkap indera penglihatanku.
기다릴게[2]
Darah dalam tubuhku seakan mengalir lebih cepat. Badan yang tadinya hampir menggigil kini terasa begitu hangat, dari lapisan kulit paling luar hingga ke organ-organ dalam tubuh. Pernahkah kau merasakan seperti ini? Seperti akan demam tinggi dan harus segera berobat ke dokter.

Tiba-tiba, mataku terasa basah. Ah, tidak boleh. Jangan sampai menangis di depan orang seramai ini. Aku terus mengerjapkan dan membesarkan mataku, berusaha menghilangkan air mata yang bisa terjatuh setiap saat.

Oh baby say goodbye, for a short while goodbye.
The talk about goodbye, I’ll put it aside for a short while.
I’ll go back to the place
When I once was

When I open that door and take one step
so that I can stand in front of you who i missed

My heart that loved you
my eyes that looked at you
I’ll wait.

Langkahku terhenti saat lirik dari lagu yang sedang diputar, yang tadinya hanya terdengar samar, tiba-tiba menjadi begitu jelas. Butiran bening dalam mataku bergulir begitu saja, membasahi kedua pipiku yang masih terasa hangat.

Sebuah senyuman terbentuk dengan sendirinya di wajahku. Benar-benar hadiah terbaik untuk dua tahun ini. Hadiah yang dapat menghangatkan badanku, sedingin apapun udara di luar. Hadiah yang dapat menghangatkan pikiranku, sedingin apapun dunia luar.

Aku menengadahkan kepala dan menatap langit.

Hei, apakah kau juga sedang melihat langit ini? Terima kasih. Meskipun kesediaanmu untuk menungguku hanya dapat kubalas dengan mengizinkanmu untuk menunggu, kumohon, tunggulah. Nantikanlah kepulanganku. Penantianmu adalah dorongan terkuat bagiku untuk terus maju. Tetapi, tenanglah. Aku akan segera pulang. Tenanglah, sebab kau tidak perlu menunggu lama. Dua tahun, tidak berarti apa-apa bagi kita yang akan bersama selamanya.

after time passed by when I meet you
I will tell you that I missed you


[1] I’ll wait
[2] Dibaca: Gidarilge

=============
Songfic by : Lidya Yang (@Lidya_yang)
Inspired by: A Short Journey By Super Junior
Post #9 of #30HariLagukuBercerita